You are currently browsing the category archive for the ‘Personal’ category.

Laptop DPR yang hangat itu ( kaya pisang goreng) membuat saya saya berpikir ketika hendak tidur tadi malam, jikalau seandainya semua anggota dewan terhormat itu membuka laptopnya pada sidang paripurna di ruang sidang yang besar itu secara bersamaan, koq ya seperti bursa efek keliahatannya ya ? ..cuma pikiran saya saja sih. Ngomongin soal laptop, jadi kepikiran trend saat ini. Tidak pede rasanya jika tidak bawa laptop, apa lagi kalo jadi bos. Tidak pede jika tidak megang hape mentereng  dengan kamera 3G pula, meskipun banyakan hp mentereng dipake muter 3gp, trus Ipod plus PDA. Apa iya hidup tanpa pernak pernik teknologi itu mengurangi kinerja atau mungkin terasa tidak menikmati hidup ?.

Salah satu teman pernah berkata, ‘teknologi harus diikuti, kalo nggak mau di anggap gaptek’. Iya sih, tapi apa ga lebih gaptek ( ‘gagap karena tekanan ekonomi’ ) lagi, jatah hidup keluarga lari ke pengeluaran pengadaan ‘gadget’ ?, masalahnya itu duit yang tidak sedikit untuk mengikuti derasnya t eknologi. Tidak masalah buat mereka mereka yang punya uang berlebih, apa lagi emang ada anggaran buat itu, atau mungkin ada budget tahunannya untuk mengantisipasi model model terbaru. Cuman koq seringnya kalangan ekonomi seperti saya ini banyak yang terpengaruh, gaji sudah pas-pasan koq-ya ikut ikutan metroseksual.

Bukannya pelit, namun lebih kepada membedakan rasa ‘ingin’ dan ‘perlu’, saya sih belum mampu untuk bergadget ria dan mengikuti arus teknologi yang sedemikian derasnya. Hape cukup sebuah Siemen C-25 yang sudah 7 tahun lebih saya pegang. Sebuah hape yang katanya terkecil di jamannya yang baru sekali ganti batere (dan agaknya perlu diganti lagi hehe ), dan sudah kenyang asam garam dilempar dan di jatuhkan oleh anak-anak saya. Handal berhalo ria dan pesan singkat, cukuplah. Sebagai pengganti PDA, cukup pake Hipster PDA, metode yang sudah 2 tahun lebih saya pake yang tersinpirasi ketika browsing  situs  43folders.com  ini. Hemat dan tentunya tidak mengurangi efektifitas kerja. Intinya sih,  pake yang benar benar anda perlukan, kalau keinginan, namanya juga manusia, kalau bisa sih semuanya ingin dimiliki.

Kira kira para wakil rakyat kita bisa berhemat gak ya ?, apa mereka benar benar perlu laptop, atau kalau iya, apa semua anggota perlu ? apa perlu usul nambah blackberry pula ?

My Gadget

PS. Hapenya tanpa antenna karena patah, tapi sinyal tetep oke tuh.

Sebentar lagi tahun 2006 lewat, sekedar mengingat kembali beberapa hal yang terjadi di tahun 2006. Sudah banyak kalaedoskop seputar dunia, indonesia dan lain sebagainya, jadi inilah kaliedoskop saya.

  1. Januari 2006, dengan semangat ingin mencoba wordpress saya akhirnya membuka sebuah akun di wordpress.com dan mulai lagi ngeblog
  2. Mei 2006, anak ke-dua saya berusia 1 tahun
  3. Agustus 2006, anak sulung saya masuk SD
  4. September 2006, penggantian 80% hardware di kantor
  5. Oktober 2006, proses migrasi system di mulai
  6. Desember 2006, Internet Indonesia ( bahkan Asia) sekarat, tidak bisa internet-an

Selamat tahun baru 2007 ….. !!!

Waaa kembali lagi bisa nge-blog. Seperti biasanya, saya memang penulis blog yang payah. Alasannya selalu klasik, ‘tidak sempat’, bukan sibuk lho. Tidak sempat disini bisa berarti macam macam … malas, tidak ada internet, tidak bisa nulis, de el el.. hehe

Sekian minggu saya lalui dan sekian hari saya libur dalam rangka Hari Raya Galungan dan Kuningan, melelahkan sekaligus menyenangkan. Selama libur sempat saya membuatkan anak sulung saya lampu belajar untuk di tempatkan di kamarnya. Sebenarnya sih bukan membuat, lebih tepat kalau disebut DIY project dengan tujuan lampu ini mudah di gunakan dan tidak berbahaya untuk anak keci serta di mounting ke mejanya secara semi-permanen untuk mencegah ulah usil si sulungl. Lampu belajar ini saya buat dari bekas lampu belajar saya masa kuliah ( medio 95 ) yang saya temukan di kamar tempat barang bekas. Semua masih berfungsi normal termasuk trafo dan lampu TL 8 watt nya, kecuali stop-kontak dan casing yang sudah pecah. Memang baru sebulan ini anak saya meminta untuk tidur sendiri. Maklumlah anak kecil, dia berusaha menunjukkan kalau dia sudah besar. Apalagi sebentar lagi akan segera masuk ke Sekolah Dasar. Semua kotak sepatu sampai pakaian sudah diangkut sendiri ke kamarnya dan sekarang lagi getol getolnya menikmati privasi nya di kamar pribadinya. Namun jeleknya , suka bawa kucing ke tempat tidur..halah. Cat kamarnya pun minta warna merah … wah, tapi masih belum saya penuhi sih.

Selama liburan juga akhirnya saya realisasikan keinginan saya untuk punya sebuah camdig buat dokumentasi keluarga. Dan atas saran didats tiga bulan lalu , saya berangkat ke Centro. Centro tempat baru buat saya.. maklum saya termasuk alergi pergi ke mall, bukan saya sih yang alergi, dompet saya yang alergi, lagi pula saya ini orang yang home sweet home ….. Setelah pusing nyariin tempat yang jual produk elektronik akhirnya ketemu, cuman produk yang di rekomendasikan oleh didats sudah tidak ada dan cuman ada produk baru, kelanjutan seri itu juga. Untungnya seri barunya ini juga masih direkomendasikan oleh budget yang tersedia.. hehe, maka jadilah saya ambil. Sekarang belum coba jeprat jepret yang banyak, masih belajar sih. Sekarang masalahnya komputer saya yang buat keja di kantor pada komputer lama semua, satunya mesin Linux, Pentium II tanpa USB port, satunya Laptop IBM 570 , namun masih Win 98 ( requirement minimum 98SE ), maka setiap mau transfer mesti nebeng di komputer user….

Bukan, saya bukan alih profesi menjadi seorang guru, masih banyak guru honorer yang berjuang agar menjadi PNS, jadi saya belum ingin menjadi guru. Ini tentang gimana susahnya mendidik anak anak.

Putra pertama saya sekarang di TK Nol Besar, namun jeleknya, ini anak paling susah disuruh belajar. Kecuali dia memang mood nya lagi mau belajar. Kalau sudah mood belajar, semua harta benda alat alat belajarnya bisa bertebaran di lantai, dari buku mewarnai sampai majalah anak anak, dari kerotan pensil sampai crayon yang sudah tidak berbentuk juga di tebar.

Terus terang saya ( ayahnya), bukan tipe pendidik yang baik ( cepet kesel ), makanya saya serahnya ke bunda-nya kalau urusan belajar mengajar. Kalau saya, kalau mata sudah mendelik karena anak saya salah berulang ulang, malah dia semakin buyar konsentrasinya, makanya untuk urusan belajar serius, lebih baik bunda-nya yang tangani. Ah susahnya memang menjadi pendidik.

Susah bikin anak pinter ?, heh. siapa sih orang tua yang tidak ingin anak pinter, cerdas, baik, soleh, pokoknya yang baik baik deh. Usaha mendidik itu yang sulit. Saya baru menyadari, ternyata jadi orang tua itu sulit . heh .. menyesal ? tidak lah. Saya mesti belajar menjadi pendidik anak yang lebih baik. Jadi tidak hanya anak yang perlu belajar, saya juga perlu belajar.

Membantu belajar anak sepulang kerja itu, tidak baik ..
Membantu belajar anak di kala perut lapar itu, tidak baik ..
Terlalu memaksa anak untuk belajar itu, tidak baik ..
Membiarkan anak untuk tidak belajar, tidak baik ..

Ah susahnya … lagi pusing mendidik anak.

Menjadi bapak dari dua orang anak dalam sebuah keluarga kecil membuat saya menikmati kehidupan ini. Meski menikmati dalam hal ini termasuk segala kepahitannya. Saya menyadari belakangan ini bahwa saya dan istri belakangan super sibuk untuk mengurus anak anak kami. Pagi sebelum berangkat kerja dan malam sepulang kerja.

Kami berdua sama sama bekerja, dan waktu kami dengan anak anak hanyalah pada hari minggu dan hari hari libur. Keseharian kami diawali dengan urusan anak anak dan urusan rumah tangga. Istri saya memasak atau mencuci dan saya memandikan si sulung dan si bungsu. Kemudian istri mesti memberi makan si bungsu dan saya mengawasi sarapan si sulung, biasa anak kecil, kalau soal makan mesti di awasi agar mau makan. Setelah itu saya mesti mengantar si sulung ke sekolah, Setelah semua pekerjaan itu selesai barulah kami mempersiapkan diri kami untuk mandi, sembhayang dan berangkat bekerja. Kami memang tidak punya pembantu, dan urusan menjaga anak anak dirumah kami percayakan ke neneknya. Sorenya sepulan kerja, kami mesti memastikan bahwa keduanya sudah rapi dan memberi mereka makan. membantu belajar si sulung dan menidurkan mereka.

Pekerjaan diatas biasa kami rolling dalam pelaksanaannya, atau kami tukar tukaran tugas, kalau saya mencuci, istri yang mandiin anak anak dst. Belakangan ini kami berpikir bahwa semakin besar si bungsu, kami akan semakin sibuk, dan tidak mungkin si nenek akan bisa mengawasi kedua anak anak kami dengan cekatan. Kami berpikir, kemungkinan besar kami akan mencari pembantu untuk sedikit mengurangi kesibukan kami. Paling tidak, pagi pagi kami tidak super sibuk. Karena seberapun siapnya kami, pada paginya kami akan sangat sibuk sekali. Sebenarnya ada dua pilihan yang kami tentukan yaitu :

  • Mencari pembantu
  • Mengatur jadwal dengan lebih ketat

Mencari pembantu, akan membuat kami akan lebih menambah budget bulanan, namun mempermudah kami dalam kesibukan sehari hari, walau dengan beberapa resiko yang mungkin kami hadapi, seperti ketidak sigapan si pembantu karena kurang terampil dan tingkat kepusan pelayanan yang mungkin dia bisa.

Mengatur jadwal dengan lebih ketat, maksudnya adalah semakin membuat jadwal jadwal harian kami dengan lebih tegas dalam pelaksanaannya, tidak boleh ada penundaan, setidaknya diminimalisir penundaan yang terjadi ( alahh .. Indonesia style sekali yah ) , harus diatur skala prioritas yang tepat untuk menghindari penundaan.Dimana semua ini butuh kedisiplinan kami. Perpaduan antara Getting Things Done nya David Allen dan Seven Habits nya Stephen R Covey, perlu kami terapkan. Ada yang punya bukunya spin-off nya 7 Habits yang berjudul Seven Habits of Highly Effective Families ??

Putu belajar komputer

Kami menyadari bahwa waktu kami dengan anak anak semakin berkurang sekarang ini, dan efektifitas interaksi kami dengan anak anak perlu kami tinjau ulang kembali. Seperti misalnya, mengajar anak sepulang bekerja, benar benar tidak bagus ( demikian juga saya baca di salah satu artikel ), stress kerja membuat kami tidak efektif dalam mengajar anak. Dan banyak lagi hal hal lainnya yang perlu kami perbaiki di tahun 2006 ini. Sebentar lagi si sulung akan menginjak SD, dan disadari atau tidak, sebuah rencana matang perlu kami persiapkan.

Hm ini seharusnya masuk dalam resolusi saya di tahun 2006 ini. Resolusi tahun 2006, mungkin akan saya post selanjutnya.