You are currently browsing the category archive for the ‘Kesehatan’ category.

Flu burung menjadi momok yang menakutkan sejak tahun 2003 lalu. WHO pun masih menempatkan Flu Burung atau Avian Flu sebagai penyakit paling mematikan sejak tahun 2003. Sejak ditemukan pertama kali  sampai sekarang, sekarang Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus dengan tingkat kematian terbanyak didunia. Tanya kenapa ?.

Masyarakat Indonesia masih punya kebiasaan menormalkan atau mengabaikan sesuatu yang di anggap ancaman atau bahaya. Memandang segala sesuatunya ada di tangan Tuhan. Hidup mati ada ditangan Tuhan. Tidak ada salahnya memang, kita khan bangsa yang katanya berkeTuhanan , cuma apakah Tuhan menciptakan manusia hanya untuk berpasrah diri ?. Ketika wabah Flu Burung menyerang, kebanyakan masyarakat tenang tenang saja bahkan protes terhadap usaha pemerintah untuk menekan penyebaran wabah flu burung tersebut, entah itu adalah karena alasan ekonomis ( terbiasa memlihara unggas di pekarangan sebagai tradisi yang menjadi sumber penghasilan ), entah itu menganggap ayam mati pada musim musim hujan adalah hal biasa yang terjadi sejak masa lampau, dan sebagainya. Entahlah, itulah masyarakat kita. Sifat menormalkan atau mungkin lebih tepatnya mengabaikan ancaman atau bahaya , hal ini disebut Normalcy Bias.

Catatan di Wikipedia tentang normalcy bias belum begitu lengkap, namun sekitar awal 2005 lalu saya menonton sebuah tayangan di TVRI yang merupakan produksi TBS ( Tokyo Broadcasting System) tentang Tsunami yang memaparkan tentang akibat Normalcy Bias. Tayangan tersebut terkait bencana Tsunami di Tanah Rencong, Aceh. Disitu di beberkan, bahwa hal utama penyebab banyaknya korban adalah Norlmalcy Bias, dimana terabaikannya system early warning system yang sudah dimiliki Jepang oleh beberapa warganya. Misal, ada yang percaya bahwa rumahnya cukup kuat menahan gempa jadi tidak perlu menyelamatkan diri, atau karena percaya tsunami tidak akan terjadi karena belum pernah terjadi hal seperti itu sebelumnya sehingga tidak mengungsi, dan lain sebagainya.

Contoh yang lain tentang normalcy bias adalah, enggannya penduduk di desa desa dekat Gunung Merapi untuk mengungsi ketika Merapi batuk batuk kronis beberapa waktu lalu. Penduduk sudah tahu, bahwa luncuran Wedhus Gembel bisa saja mengancam pemukiman mereka, namun tetap saja mereka tidak beranjak dari desa mereka. Terlepas itu, apakah  karena faktor kepercayaan ( yang memang kita tidak bisa lepas dari ranah Nusantara ini ), namun itu lah normalcy bias. Normalcy Bias cenderung menjadi factor banyaknya korban yang berjatuhan, yang mestinya tidak terjadi.

Kini, ditengah wabah Flu Burung, masyarakat seolah tidak begitu terancam. Satu yang pasti permasalahan ekonomi yang mempengaruhi, mereka tak ambil pusing, kebutuhan lebih mendesak daripada persoalan wabah. Butuh makan mengalahkan segala kekhawatiran lainnya. Kemiskinan ; kebodohan ; kapan Indonesia terbebas ?.

Advertisements

Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006
yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog
yang peduli dengan masalah ini, bermaksud untuk memperingatkan
kita semua akan bahaya tembakau:

1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM
BENTUK APAPUN. Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok
beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok tanpa asap, cerutu…
semuanya berbahaya.

2. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau dalam jenis, nama
dan rasa apapun sama bahayanya. Tembakau BERBAHAYA DALAM
SAMARAN APAPUN. Mild, light, low tar, full flavor, fruit
flavored, chocolate flavored, natural, additive-free, organic
cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products),
harm-reduced… semuanya berbahaya. Label-label tersebut
TIDAK menunjukkan bahwa produk-produk yang dimaksud lebih aman
dibandingkan produk lain tanpa label-label tersebut.

3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera
mungkin meratifikasi WHO Framework Convention on Tobacco
Control (WHO FCTC) demi kesehatan penerus bangsa. Indonesia
adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani
perjanjian Internasional ini.

Internet, 31 Mei 2006

Tertanda,

I Wayan Wandira

Ikut call-in action : Tembakau: Berbahaya Dalam Bentuk dan Samaran Apapun oleh Priyadi

Isu formalin menjadi hangat belakangan ini dimedia massa. Penggunaan zat kimia yang biasa digunakan untuk pengawet mayat ini pada bahan bahan makanan, membuat resah masyarakat, termasuk saya. Bagaimana tidak, keseharian hidup saya tak lepas dari tahu, ikan, bakso, mie , yang mana semua yang saya sebutkan itu, katanya ada yang mengandung formalin. Terus terang sekarang saya tidak makan tahu lagi. Yang lebih meresahkan lagi, Denpasar, dikatakan oleh pemerintah termasuk daerah kategori merah dalam persentase produk yang ditemukan ada kandungan formalin nya.

Formalin sebenarnya termasuk bahan kimia yang dilarang penggunaannya pada produk pangan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988. Namun tata niaga formalin yang diduga tidak terorganisir dengan baik dan disalah gunakan, makanya peredaran bahan kimia ini menjadi tidak terkendali.

Apa itu Formalin

Formalin adalah senyawa kimia yang berbahan dasar Formaldehyde (H2CO) . Formalin adalah larutan 37% formaldehyde kedalam air yang ditambahkan sekitar 10-15% methanol untuk mencegah larutan Formaldehyde terpolimerisasi. Secara kasar bisa diartikan dalam 100 ml Formalin terdapat sekitar 37 ml Formaldehyde. Betul gak yah ?. Ciri ciri Formalin adalah berbau sangat menyengat. Formaldehyde dikenal sebagi disinfectant dan bahan anti bakteri. Formalin sering digunakan pada bidang pathology, untuk pengawetan specimen. Di dunia awam sering digunakan untuk mengawetkan mayat ( kalau di Bali, digunakan pada mayat untuk membuat mayat agar tetap tahan sampai hari baik untuk melakukan Pengabenan atau penguburan ). Karena daya anti-bakteri inilah, formalin digunakan untuk mengawetkan makanan, seperti bakso, ikan, tahu, mie dan lain lainnya. Suatu alasan klasik dan namun memang bisa diterima adalah, karena situasi ekonomi yang sulit. Berbagai usaha dilakukan untuk membuat produk dagangan mereka tahan lama dengan maksud mengeruk untung dengan mengurangi kerugian sebesar besarnya.

Selain pada makanan, ternyata Formaldehyde juga ditemukan pada barang barang alat alat makan dan minum , seperti piring, sendok, cangkir dan lain lain, terutama yang berbahan melamin. Melamin yang kita kenal sebagai piring, sendok dll adalah campuran antara Melamin Resin yang dihasilkan dari Melamine ( CH6N6) dengan Formaldehyde, dimana campuran ini membentuk plastik keras yang disebut Thermoset plastic. Thermoset plastic adalah plastik yang tidak bisa meleleh bila kena panas atau dibentuk. Umumnya thermoset plastik digunakan untuk produk produk tahan panas. Saya kurang tahu kadar formaldehyde yang digunakan untuk membuat alat alat makan melamin, dan bagaimana proses yang mengakibatkan formaldehyde pada alat alat makan berbahan melain bisa membahayakan. Apakah bila terkena panas ?, bereaksi dengan berbagai zat kimia yang terkandung dalam makanan ? ataukah bagaimana ?.

Efek terhadap Kesehatan

Umumnya Formaldehyde ( bahan dasar Formalin ), dikenal sebagai polutan udara dalam ruangan dan menyebabkan gangguan kesehata kesehatan bila terhirup. Ini disebabkan karena Formaldehyde umum digunakan pada bidang kontruksi dan pabrik. ( formaldehyde digunakan untuk bahan dasar lem pada tripleks, carpet dll ). Bila terhirup bisa menyebabkan sesak nafas, rasa panas di kerongkongan, mata berair dll. Jika tertelan dalam kadar tinggi, Formaldehyde (Formalin) bisa mematikan. Di tubuh formaldehyde berubah menjadi Asam Formic yang membuat kadar keasaman darah meningkat, terus nafas pendek dan cepat yang akhirnya membuat hypothermia, kemudian koma atau juga bisa mati. Formaldehyde juga diduga sebagai zat penyebab kanker.

Berikut adalah cara mengenal makanan yang memakai Formalin yan gsaya kutip dari berbagai sumber.

Ciri Ciri Mie Basah yang mengandung formalin:

  • Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius)
  • Bau agak menyengat, berbau formalin
  • Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal

Ciri Ciri Tahu yang mengandung formalin:

  • Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius)
  • Tahu keras, namun tidak padat
  • Bau agak menyengat, berbau formalin (dengan kandungan formalin 0.5-1ppm)

Ciri-ciri Ikan segar yang mengandung formalin:

  • Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
  • Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih
  • Bau menyengat, bau formalin

Ciri-ciri Ikan Asin yang mengandung formalin:

  • Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
  • Bersih cerah
  • Tidak berbau khas ikan asin

Ciri-ciri Bakso yang mengandung formalin ( bakso tikus maupun bukan ):

  • Tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
  • Teksturnya sangat kenyal

Berikut adalah tautan ke situs halaman Balai Pengawas Obat dan Makanan tentang Formalin

Dari berbagai sumber