You are currently browsing the category archive for the ‘Kenangan’ category.

Ketika tahu Didats memulai untuk naik sepeda sebagai alat transportasi utama ke tempat kerja, saya jadi teringat pertama kali naik sepeda.

Pertama kali bisa naik sepeda, waktu kelas V SD, untuk beberapa orang mungkin seumuran segitu termasuk terlambat. Mau bilang apa lagi, dasar memang tidak punya duit buat beli sepeda. Ceritanya, waktu itu saya hijrah sekolah SD ke Denpasar sejak kelas IV karena ikut paman. Disampig rumah paman saya ini, tinggal kerabat dari satu kampung, dan anaknya yang lebih kecil sekitar 3 tahun dari saya, baru saja diberikan sepeda BMX (BMX lagi trend jaman itu ), akhirnya sepeda mini yang biasa dibawanya nganggur dan kerabat saya itu ( masih terhitung paman, tapi paman jauh ), mengijinkan saya menggunakan sepeda mini tersebut buat belajar naik sepeda setiap sore.

Biasa lah namanya juga baru bisa bersepeda, pasti waktu dihabiskan untuk naik sepeda sampai lupa waktu. Putar putar mengelilingi lapangan yang sebagian besarnya menjadi tempat pembuangan sampah.

Lulus SD saya dititipi uang ke paman oleh ibu saya untuk beli sepeda, hadiah karena berhasil juara umum satu dan berhasil masuk SMP Negeri 1 Denpasar. Senangnya bukan main. Impian saya waktu itu sih beli sepeda balap ( stangnya yang lengkung itu, waktu itu belum jaman sepeda federal, kira kira 3 tahun sebelum jaman sepeda federal ). Diajak paman ke toko sepeda dibilangan Kayumanis, begitu nunjuk sepeda balap ukuran sedang, paman saya mendelik. Katanya saya tidak usah beli sepeda mahal, duitnya disisihkan buat sekolah saja. Di SMP katanya saya perlu biaya yang lebih besar lagi. Benar juga sih. Saya nurut pilihan paman. Di belikannya saya sepeda cina ( sepeda jengki sebutannya dulu ), merk Phoenix warna biru. Hati saya tetap senang waktu itu, namanya juga sepeda baru. Sepeda Cina merk Phoenix warna Biru, tanpa gigi jadi milik saya.

Akhirnya sepeda itu jadi kendaraan utama saya pergi dan pulang ke sekolah. Sepeda itu bahkan saya gunakan sampai SMA. Maklum SMA juga saya di SMA 3 Denpasar, dimana memang sepeda motor dilarang. Jadi pake sepeda semua, sukurlah saya juga gak punya sepeda motor. Berhasil masuk sekolah negeri yang bagus saja saya sudah puas, sekaligus memuaskan orang tua dikampung yang sudah susah payah membiayai sekolah di kota.

Sepeda jengki biru tersebut baru saya pensiunkan pada akhir semester satu kelas tiga, karena tali rem keduanya putus dan sudah di pesan sama bibi untuk ponakannya. Nasib bagus juga saya di pinjamkan sepeda federal biru sama teman sekelas dari Legian, namanya Gung Surya Laksana. Orangnya pinter main gitar, saya juga diajari main gitar dengan meminjamkan gitarnya kesaya. Dasar saya kurang jiwa seni, disuruh kunci G jarinya belepotan. Akhirnya saya nyerah, gitar dibalikin hihi, sekarang baru nyesel. Terimakasih Gung. Beberapa bulan lamanya saya di kasih pinjam sepeda dimasa masa akhir kelas tiga SMA waktu itu. Pernah bersepeda dari Kesiman ke Waturenggong ketika les intensif di IPIEMS untuk pertama kali, saya malah ngantuk berat di sesi les.

Kalo dirunut dalam sejarah hidup saya sampai sekarang baru sekali saja saya pernah punya sepeda. Sebuah sepeda cina atau jengki warna biru. Lengkap dengan kampu dan dinamo. Sebuah hadiah dari ibu tercinta sebagai hasil perjuangan saya belajar. Terima kasih ibu.

Pengen ngikut b2w ?. Pengen sih, namun bukan sekarang. Nanti deh kalau sudah pindah ke daerah yang tidak berbukit seperti sekarang. Menyusuri tanjakan lebih dari 30 derajat dan panjang panjang takutnya bukannya bikin sehat.

Penasaran mau cari gambar sepeda jengki di google.

Advertisements

Kemarin saya seperti biasa berangkat ke kantor jam 8:15 , kali ini saya bawa bekas motor nya adik ipar saya, berhubung motor saya dibawa istri untuk mengantar anak ke acara sekolah. Tanpa ada firasat apapun, saya meluncur dengan motor itu dengan penuh percaya diri. Sebelumnya motor itu diperbaiki karena ada masalah pengapian, alhasil CDI diganti. Seperti biasa ada saja rentetan masalah yang katanya kena, kali ini katanya spul-nya , trus motornya mesti ditinggal berhubung orderan banyak, akhirnya waktu itu motor itu di servis, ganti oli, ganti cdi, busi. Buset dah …

Belum genap dua kilo motor itu jalan, rasanya mulai aneh, di mesinnya seperti mesin panas trus akhirnya mati. Saya coba hidupkan, bisa, namun setelah beberapa saat mati lagi. Coba didiamkan beberapa saat, dihidupkan bisa, bisa jalan 10 meter trus mati lagi. Walah . Akhirnya saya putuskan dorong ke bengkel terdekat. Setelah mendorong sekitar 1 kilometer dengan berpeluh karena memakai helm,jaket dan beban sebuah tas gendong akhirnya saya sampai di bengkel terdekat. Saya sampaikan riwayat motor dan kerusakan yang saya alami. Dia test pengapian, ok tidak ada masalah. Trus saya suruh dia cek oli, karena tadi suara mesinnya seperti mesin kepanasan. Ternyata benar .. tidak ada oli nya .. tepatnya tinggal kurang lebih 50 mili yang tersisa. Wah saya sudah mulai punya perasaan gak enak nih. Saya pasti di bohongin sama bengkel yang mengganti CDI itu…. pikir saya. Si montir bilang mungkin olinya habis karena pembakaran yang gak bagus sehingga oli banyak terbuang sebagai asap knalpot, atau bisa juga bocor. Saya ingat ingat motor ini tidak pernah dibawa kemana mana sejak di servis, terus tidak ada bekas ceceran oli di garasi dan juga asap knalpot biasa biasa saja, tidak berbau aneh dan tidak kelihatan seperti halnya pembakaran karena oli. Akhirnya setelah ganti oli, si montir mencoba menghidupkan motor saya dan dia memastikan memang masalahnya karena oli habis saja, dan pembakarannya memang tidak masalah, dia nyaranin kalau dalam seminggu ada masalah disuruh bawa ke bengkel itu untuk di cek lagi. Dia mencoba membesarkan hati saya dengan mengatakan mungkin saja bengkel tempat saya ganti CDI itu lupa ngisi olinya. Mungkin bodohnya saya juga terlalu percaya buat ninggalin motor buat di servis dan ganti oli. Dan memang saya tidak pernah servis di bengkel pinggir jalan kaya gitu sebelumnya, tetapi karena waktu itu perlu penting dan motornya sudah mogok jalan ya akhirnya mau tidak mau servis di pinngir jalan kaya gitu.

Saya beranikan terus jalan dengan motor itu kekantor, meskipun dengan perasaan was was takut mati lagi. Akibat masalah oli, saya jadi telat ngator sekitar 30 menit. Sesampai dikantor saya telepon istri saya untuk cek ulang dirumah apakah ada tetesan oli di garasi untuk memastikan bahwa permasalahanya adalah si bengkel sialan yang lupa ngisi oli , atau mungkin disengaja.. ah tidak taulah. Belakangan saya tahu kalau istri saya akhirnya komplen berat ke bengkel itu dan dapat ganti rugi 25 rebu perak.

Ketika pulang kantor saya periksa lagi jika ada ceceran oli dari motor saya di lantai parkir, tidak ada, Ini menambah keyakinan saya kalo tidak ada kebocoran oli. Saya akhirnya selamat tiba dirumah kembali.

Perlu di cermati, bahwa kedepan motor ini mesti di cek ulang lagi, saya tidak percaya dengan hasil oprekan bengkel sialan itu.

Sebuah pengalaman terburuk saya berurusan dengan bengkel pinggir jalan.

Hari ini saya iseng menelepon ke tempat kerja teman lama, dengan harapan semoga dia masih bekerja disana. Iseng saja, sudah lebih dari tiga tahun, saya tidak pernah kontak dengan dia, sebut saja namanya Surya. Sekedar menanyakan khabar di telepon dan pertanyaan umum lainnya. Dia adalah teman baik saya semasa di “kuliah” dulu. Sering main ke kampungnya, sekedar iseng menghabiskan waktu akhir pekan. Waktu itu dia punya sepeda motor dan saya tidak, jadi acara main ke kampung sia itu adalah sebuah cara saya untuk killing time, dari pada bengong sendirian di kost-an.

Tempat kost saya dan dia cuma berjarak tiga rumah, saya kost berdua dengan seorang teman dari Buleleng, si Surya kost dengan temannya dari Buleleng juga. Saya, si Surya dan temannya dari Buleleng ini, sebut saja namanya Pasek punya hobi yang sama semasa kuliah dulu, yaitu menghabiskan waktu di Lab Komputer. Kalo teman kost saya, hobinya lain dari yang lain, yaitu menghabiskan waktu di meja billiard. Selain jam praktek bebas pada hari Sabtu, kami bertiga biasanya rela menunggu Lab Komputer selesai digunakan oleh kelas lain. Waktu 15 menit pergantian kelas di Lab Komputer adalah sangat berarti bagi kami. Rasanya gatal tangan ini kalau tidak sempat main komputer. Pada jam praktek bebas, komputer kami gunakan untuk latihan programming dan kebiasaan orang yang baru kenal komputer, yaitu main game, waktu itu Prince of Persia. Masih melekat di ingatan, bagaimana susahnya memprogram pull-down menu di DBASE III dan IV, sebetulnya itu sekedar trik. Bagaimana waktu yang lama untuk compiling Clipper Summer 86, Pascal dan COBOL pada mesin 80386. Masih untung kalau berhasil masuk Lab paling dulu, jadi bisa merebut jejeran komputer bagian depan yang sudah 80486. Masih juga saya ingat bagaimana pada ujian COBOL saya kelupaan nulis tanda titik (.), pada akhir salah satu baris perintah program yang ditanyakan.

Saya dan Surya, dulu sangat terobsesi dengan teknologi virus. Saat itu kami sering menelaah kode kode program virus waktu itu ( waktu itu baru ada virus bootsector, virus file dan batch-trojan ). Hobi kurang kerjaan dijalani, dari koleksi disket disket yang bervirus, melototi debugger sampai mata perih untuk sekedar membaca bagaimana alur si virus ( membaca header korban, mengkopi diri di akhir program korban, memodifikasi pointer header si korban, me-load diri ke memory dll ), sampai coba coba membuat program scanner untuk deteksi virus dan removalnya. Walaupun hanya sekedar iseng, hobi tersebut cukup membuat learning curve kami di Assembly Language terasah. Interrupt, register, offset, and, or , xor dan lain lainnya cukup membuat pusing kepala karena kami belajar otodidak dengan modal English pas-pasan. Berbekal kemampuan di Assembly juga yang membuat kami mencoba mengimplementasikan pemetaan karakter ala Norton Utilities, pada program program tugas Clipper, C dan Pascal kami.

Hobi jelek diatas juga yang membuat saya harus meringkuk di rumah untuk istirahat karena didiagnosa gejala Tifus. Kelelahan dan sering lupa makan membuat saya kena Gejala Tifus dua kali. Dua kali kena Tifus saya habiskan di kampung. Duh ..ternyata kalaua mau ditulis, semua kenangan itu tiada habisnya. Meski sebuah kenangan, semuanya itu telah berperan mambentuk saya seperti sekarang ini. Suatyu keadaan yang sangat saya syukuri, meski masih banyak obsesi dan cita cita yang ingin saya raih …

Klik