Masih ingat tiga suku kata tersebut ? ‘ Bali Love Peace’, ada orang bilang, itu adalah mempunyai makna bahwa Bali,Cinta dan Perdamaian adalah suatu kombinasi yang sangat manis, disisi lain menyiratkan bahwa Bali itu sendiri cinta damai.

Berawal dari peristiwa 12 Oktober 2002, Bali menyadari bahwa kedamaian adalah suatu hal yang penuh ancaman, tidak semua orang cinta damai karena damai di persepsi setiap orang bisa jauh berbeda dengan yang lain.

Di filsafat Hindu kita mengenal ‘Tat Twam Asi’, yang bermakna, ‘itu adalah kamu, dia adalah aku, aku adalah kamu …..’, sebuah filsafat yang bersifat paradoks yang memaknai bahwa setiap manusia adalah saling bersaudara, adalah teman, adalah satu asal, insan ciptaan-Nya. Ada Tri Hita Karana yang menyiratkan keseimbangan hubungan yang harmonis dengan Nya, dengan sesama serta dengan lingkungan adalah dasar untuk mencapai kedamaian dan keharmonisan. Sebuah filsafat yang yang kalo diterapkan semua orang akan menjadi landasan kuat membangun perdamaian di muka bumi ini.

Namun apa daya, gaung ‘Bali Love Peace’ seolah tertelan gaung demokrasi yang menggelora, demokratisasi yang terkontaminasi oleh berbagai hal dalam dilema kepentingan politik dan kekuasaan.

‘BALI LOVE PEACE’ …..