You are currently browsing the monthly archive for January 2008.

Sebenarnya tulisan ini hendak ditulis hari Mingguu lalu ketika pertama kali terdengar khabar berpulangnya mantan presiden RI ke dua; Pak Harto. Waktu itu baru saja habis nyuci ketika anak saya yang biasanya nyanggongi seri ‘Bolang dan ‘ Laptop si Unyil’ memberi khabar kalau pak Harto sudah meninggal, mungkin dia merasa terganggu “koq semua siaran TV ada siaran Pak Harto ?”. Namun hari itu saya benar benar terisolasi dari Internet, jadi urung mempostingnya, maklum lah.

Sang Jendral sudah berpulang, saya turut berduka cita. Sang Jendral yang pernah berhasil membawa negeri ini berswasembada pangan di tahun 80-an, sang jendral yang bercita cita membawa bangsa ini tinggal landas dalam pembangunan melalui berbagai tahapan ‘repelita’ dalam “Kabinet Pembangunan” nya itu.Sang Jendral yang namanya selalu tertanam di otak saya sejak SD sampai SMA sebagai Presiden Indonesia.

Sang Jendral yang tak lepas dari kontroversi kepemimpinannya selama 32 tahun tersebut akhirnya harus menghadap ‘Sang Asal dari Segalanya’, meninggalkan kasus hukum dan berbagai persoalan pelik yang mewarnai perjalanan Sang Jendral menjadi seorang pemimpin negara besar. Sang Jendral memang penuh kharisma, doa dan kritik mewarnai perjalanan akhirnya ke liang lahat. Berita sampai hari ini pun masih didominasi oleh berpulangnya Sang Jendral, dari kilas balik hingga otobiografi, dari jasa -jasa hingga dosa-dosa, dari nasehat dan imbauan hingga harapan-harapan.

Istirahatlah wahai Sang Jendral,

Om Swastiastu

Pajeng Kuning

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
23 Januari 2008 – 2 Februari 2008

Om Shanti Shanti Shanti Om

Siapa sangka si bahan makanan yang identik dengan rakyat kecil (meski dunia mengakui tingginya kandungan protein didalamnya) tersebut bisa menggebrak di awal tahun 2008 ini menyaingi kritisnya si The Smiling General. Mantan presiden RI yang kedua tersebut kritis, harga kedelai juga ikut kritis alias melonjak naik. Akibatnya, tahu dan tempe jarang di pasaran, kalaupun  ada harganya sudah tidak normal serta ukurannya sudah mengecil, sebagai usaha pengusaha untuk memangkas kerugian.

Harga kedelai yang sudah pernah naik turun sejak awal 2007 (alias “ancog-ancog”) ini, sejak akhir tahun 2007 hingga sekang ini dikhabarkan sudah melewati batas kewajaran. Sehingga tak salah para pengusaha tahu/tempe yang sebagaian besar adalah usaha kecil menengah kebawah akhirnya melabrak ke istana negar meminta intervensi pemerintah dalam mengendalikan harga kedelai.

Yang saya heran khan, koq di negeri ini rakyat yang sudah miskin semakin di miskinkan lagi oleh mekanisme pengelolaan dan pengendalian kebutuhan pokok oleh pemerintah yang tidak saya mengerti bagaimana bisa sampai terjadi seperti ini. Apakah ini karena sektor pertanian cuma di “towel-towel” saja oleh pemerintah ?, sistem distribusi yang dikuasai para kartel ?  hmm apa sih yang serius  ditangani di negara ini ?  korupsi ?? …

Sekarang di kantin juga sudah jarang ada tempe, tahu sih ada, cuma sekarang jadi mikir,jangan jangan tahunya diformalin, makanya saya menghindari tahu. Lagian tahu itu enaknya cuma kalau baru habis digoreng/dimasak, panas panas, kalo tempe kapanpun tetap enak ( asal masaknya yang benar ), juga banyak variasi olahannya yang bisa dibuat dari tempe. Tempe ku malang, semakin jauh saja dikau ..

Oh ya yang jelas, negeri ini terlalu sibuk ngurusin demokrasi, kalau pilkada, baku hantam pun dilakoni .. kekeke

(Gambar diambil dari daunpisang.blogsome.com )

Rusuh lagi, rusuh lagi. Si komo lewat sambil nyanyi. Liga sepakbola sekali lagi diwarnai oleh gelora fanatisme pendukung suatu tim. ‘Ah itu khan biasa’, kata teman saya. Justru itu biasa berkwadrat kwadrat menjadi luar biasa khan ?.

Siapa yang nonton Persiwa vs Arema kemaren ?, bisa komentar gak ? hehehehe. Dengan harapan dapet nonton pertandingan yang berkwalitas, yang katanya pengamanannya sampai berlipat lipat untuk antisipai, eh kebagian juga itu pembantu wasit kena bogem salah satu Aremania. Jadi yang saya tonton kemaren adalah dukungan supporter yang berkwalitas hehehe. Terus terang saja, salah satu alasan saya terus kalah rebutan channel tipi sama istri ya karena saya di argue sama istri , ‘sepak bola macam gitu di tonton’, mending nonton madam Ivan Gunawan, lebih mending dengerin ocehan tak karuan para presenter dan komentator itu katanya, beuhh ……

Hmm, ini kah sebuah seri kebobrokan liga sepak bola negeri tercinta ?, weeeewwww, kalo iya tak akan pernah maju sepak bola kita. Pandangan seorang Aremania ini mungkin bisa membuka beberapa rahasia aji-ajian liga sepak bola indonesia.

Kalo suka bakar bakaran kaya gini, mending pake bola dari sabut kelapa isi minyak tanah trus dibakar, kaya iklan ExtraJoss versi Christian Ronaldo itu, trus pake nama Fire League  alias Liga bakar bakaran .

Liga Indonesia ?? ughh.. speechless