Hujan sudah mulai membasahi bumi setelah sekian lama rasanya terpanggang oleh panasnya terik matahari.Didaerah saya, daerah Kuta selatan, mulai kemarin hujan sudah mulai menunjukkan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Dari malam kemarin sampai tulisan ini di upload, hujan masih terus mengguyur.

Beberapa hal selalu mewarnai ketika musim hujan telah tiba, jalanan  banjir, motor-motor yang macet karena nekat menerobos banjir, dan proyek-proyek pemerintah yang katanya ‘untuk mengantisipasi musim hujan’ . Sudah menjadi rutinitas atau kebiasaan pemerintah kita (baik desa, kota , atau yang lebih tinggi lagi), melakukan perbaikan ketika hari ‘H’ telah tiba. Contoh perbaikan gorong-gorong atau got di pinggir jalan , perbaikan jalan yang rusak, dan lain lain. Didaerah saya, saat ini sedang berlangsung perbaikan badan jalan sekitar 400 meter. Perbaikannya meliputi perbaikan gorong-gorong atau got dan pengaspalan kembali badan jalan yang rusak parah. Sebetulnya jalan yang diperbaiki ini sudah bukan barang baru, hampir satu tahun jalan tersebut rusak parah, bahkan sempat dimuat dikoran, dan sempat menjadi polemik di masyarakat bagaimana lambannya pihak yang berwenang bertindak. Dulu pernah beberapa kali spanduk bernada protes dan kritik terhadap pihak berwenang menghiasi wilayah sepanjang 400 meter tersebut. Spanduk spanduk kreatif tersebut, menyuarakan keprihatinan mereka terhadap debu sebagai hasil sampingan batu limestone yang dipakai menimbun badan jalan yang rusak tersebut, diantarannya berbunyi “Selamat Hari Raya Nyepi, Suci dalam Debu “, “Debu 3X, Mau?”, dan lain lain. Namun dalam catatan saya, spanduk spanduk tersebut tidak bertahan lebih dari 2 hari, karena ada pihak pihak yang merasa risih dan menurunkan spanduk spanduk tersebut.

Kini, proyek pengerjaan perbaikan badan jalan tersebut sedang berlangsung, hal yang dinanti nantikan oleh masyarakat sejak dulu. Tapi pertanyaan saya kenapa mesti baru sekarang ?, kenapa setelah jalan yang rusak itu menelan beberapa korban lakalantas?, entah berapa orang sudah menjadi korban cidera karena melewati jalan rusak tersebut. Kenapa baru sekarang saat ketika musim hujan telah tiba ?. Kalau semestinya proyek tersebut sudah dikerjakan minimal 2 bulan yang lalu, seharusnya saat ini saya sudah bisa menggunakan jalan tersebut dengan nyaman, tanpa diganggu oleh mesin mesin berat dan kondisi jalan yang masih belum sempurna, terlebih lebih disaat musim hujan, dimana kemampuan pandangan para pengendara sedikit berkurang.

‘Ini mending Yan, dari pada tidak diperbaiki sama sekali’, kata rekan saya. Ada benarnya cuma kalo jalan itu diperbaiki sejak pertama kali dulu kerusakan pertama terjadi, dimana cuma ambrol sebagian sepanjang kira kira 20 meter akibat dilalui truk pengangkut limestone yang overload, mungkin biaya yang perlu dikeluarkan untuk perbaikan tidak semahal sekarang. Tanya kenapa ??