You are currently browsing the monthly archive for December 2007.

Saya termasuk orang yang tidak pernah memperingati pergantian tahun dengan hingar bingar dan perayaan, teman teman menyebut saya tipe ‘rumahan’, ogah plesiran kalau memang sudah berada dirumah. Rumah memang tempat yang paling nyaman menurut saya, tidur paling nyenyak ya dirumah, apalagi ada anak-anak, dan ehm …. ada istri tentunya.

Pergantian tahun baru sering berlalu begitu saja bagi saya, hampir tiada beda seperti pergantian hari hari biasa, hanya ritual mengganti kalender saja yang menambah suasana keesokan harinya. Sewaktu kuliah dulu paling paling juga malam tahun baru pulang kampung, atau keesokan harinya diajak teman teman mancing. Ahh.. jadi rindu sama memancing.

Setiap tahunnya perayaan tahun baru selalu hingar bingar, penuh hentakan musik, dan perayaan. Dari pojokan tempat nongkrong anak muda sampai bekas posko-posko partai politik dan pos kamling disulap menjadi arena pesta kecil oleh para anak muda.Kembang api, terompet, konvoi kendararan bermotor …. wah ramai deh.

Sejak 10 tahun lalu, ritual saya berubah. Tidak diperingati dikampung lagi, tapi di tempat ‘mekuli’. Sebuah kewajiban kerja mengharuskan saya menghabiskan malam tahun baru di tempat kerja. Jadi malam tahun baru saya selalu habiskan di tempat kerja, melewati malam tahun baru dengan beban kerja. Syukurkah ada pergantian tahun baru yang selalu saya peringati, yaitu Tahun baru Saka, setiap Hari Raya Nyepi. Disaat itulah saya bisa intropeksi dan merenung, mungkin karena suasana yang sepi dan khusuk menambah daya pikir kita saat itu.

Selamat tinggal tahun 2007,
Semoga Tahun 2008 menjadi tahun yang lebih baik bagi bangsa ini ……

SELAMAT TAHUN BARU 2008
 

Hujan sudah mulai membasahi bumi setelah sekian lama rasanya terpanggang oleh panasnya terik matahari.Didaerah saya, daerah Kuta selatan, mulai kemarin hujan sudah mulai menunjukkan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Dari malam kemarin sampai tulisan ini di upload, hujan masih terus mengguyur.

Beberapa hal selalu mewarnai ketika musim hujan telah tiba, jalanan  banjir, motor-motor yang macet karena nekat menerobos banjir, dan proyek-proyek pemerintah yang katanya ‘untuk mengantisipasi musim hujan’ . Sudah menjadi rutinitas atau kebiasaan pemerintah kita (baik desa, kota , atau yang lebih tinggi lagi), melakukan perbaikan ketika hari ‘H’ telah tiba. Contoh perbaikan gorong-gorong atau got di pinggir jalan , perbaikan jalan yang rusak, dan lain lain. Didaerah saya, saat ini sedang berlangsung perbaikan badan jalan sekitar 400 meter. Perbaikannya meliputi perbaikan gorong-gorong atau got dan pengaspalan kembali badan jalan yang rusak parah. Sebetulnya jalan yang diperbaiki ini sudah bukan barang baru, hampir satu tahun jalan tersebut rusak parah, bahkan sempat dimuat dikoran, dan sempat menjadi polemik di masyarakat bagaimana lambannya pihak yang berwenang bertindak. Dulu pernah beberapa kali spanduk bernada protes dan kritik terhadap pihak berwenang menghiasi wilayah sepanjang 400 meter tersebut. Spanduk spanduk kreatif tersebut, menyuarakan keprihatinan mereka terhadap debu sebagai hasil sampingan batu limestone yang dipakai menimbun badan jalan yang rusak tersebut, diantarannya berbunyi “Selamat Hari Raya Nyepi, Suci dalam Debu “, “Debu 3X, Mau?”, dan lain lain. Namun dalam catatan saya, spanduk spanduk tersebut tidak bertahan lebih dari 2 hari, karena ada pihak pihak yang merasa risih dan menurunkan spanduk spanduk tersebut.

Kini, proyek pengerjaan perbaikan badan jalan tersebut sedang berlangsung, hal yang dinanti nantikan oleh masyarakat sejak dulu. Tapi pertanyaan saya kenapa mesti baru sekarang ?, kenapa setelah jalan yang rusak itu menelan beberapa korban lakalantas?, entah berapa orang sudah menjadi korban cidera karena melewati jalan rusak tersebut. Kenapa baru sekarang saat ketika musim hujan telah tiba ?. Kalau semestinya proyek tersebut sudah dikerjakan minimal 2 bulan yang lalu, seharusnya saat ini saya sudah bisa menggunakan jalan tersebut dengan nyaman, tanpa diganggu oleh mesin mesin berat dan kondisi jalan yang masih belum sempurna, terlebih lebih disaat musim hujan, dimana kemampuan pandangan para pengendara sedikit berkurang.

‘Ini mending Yan, dari pada tidak diperbaiki sama sekali’, kata rekan saya. Ada benarnya cuma kalo jalan itu diperbaiki sejak pertama kali dulu kerusakan pertama terjadi, dimana cuma ambrol sebagian sepanjang kira kira 20 meter akibat dilalui truk pengangkut limestone yang overload, mungkin biaya yang perlu dikeluarkan untuk perbaikan tidak semahal sekarang. Tanya kenapa ??

Ya, kembali bernafas, mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kembalinya saya ke Internet, nge-blog dan membuang-buang waktu didunia maya. Hampir setengah tahun blog ini tidak pernah saya sentuh, stagnan tiada update, terhenti karena kemalasan saya menulis dan meluangkan waktu di dunia maya ini.

Bukannya saya terpisah seratus persen dari dunia maya, namun proporsi waktu yang memang tidak mengijinkan saya untuk banyak meluangkan waktu untuk memperbaharui blog ini. Mungkin banyak rekan yang akan bilang ha itu khan ahanya ‘ah-lesan’, whatever-lah. Pokoknya, teori Getting Things Done, tidak bisa saya terapkan di situasi saya .. hahah, lagi lagi ‘ah-lesan’.

Namun begitu masih sempat juga, saya menikmati beberapa hal aktual di dunia maya yang cukup menarik, salah satunya mungkin perihal curi mencuri kebudayaan oleh negeri jiran Malaysia, beberapa rekan getol mengirimkan email dengan topik klaim-budaya ini, baik itu berita defacement, berita terkini dan lain lain. Hal lainnya tentu adalah Konferensi Perubahan Iklim yang baru saja lewat

Semoga dengan mulai bernafasnya blog ini, saya bisa menulis dengan lancar lagi. Semoga, saya mohon doanya. Saya mau membuat teh hangat dulu, hujan hujan begini, teh ditambah ‘godoh’ , paling ‘Mak nyusss’.