Perbedaan kadang membuat kita melupakan arti manusia sebagai mahluk sosial, bahkan sering mengenyampingkan hati-nurani. Kadang saya berpikir, seandainya Tuhan tidak memberi manusia akal-budi. Akal-budi dan kemampuan manusia untuk berpikir telah membuat manusia menjadi penghancur, penghancur dirinya sendiri. Ditengah kehidupan yang heterogen seperti sekarang ini, perbedaan semakin di perdebatkan, saya putih, kamu hitam, saya benar kamu salah.

Keyakinan adalah hal yang paling sering menjadi gejolak, Indonesia yang heterogen sangat rentan dengan gejolak, hal kecil di perdebatkan, hal besar di bakar bakar. Saya pernah di ajak berdebat masalah keyakinan oleh tuan pemilik bangunan tempat saya bekerja 10 tahun lalu.
Jawab saya waktu , “Pak, sampai sekarang saja saya belum tuntas untuk mengerti dan menjalankan amanat agama saya, saya tidak bisa berdebat masalah keyakinan, dengan bapak”. Saya pikir waktu itu, betapa bodohnya saya berdebat tentang hal yang saya sendiri belum mengerti betul , dan saya yakin Bapak itu juga belum tentu mengerti dan menjalankan dengan betul keyakinannya sendiri. Kita sering belum paham dan mengerti akan sesuatu, namun sudah mendebatkannya, bahkan cendrung mengkultuskannya secara buta.

Dengan alasan menjunjung moral namun justru mengabaikan hak asasi, cenderung berpikir ala susah lihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah, penyebabnya cuma satu yaitu perbedaan. Bukankah bangsa ini katanya bangsa toleran, kenapa risih dan terganggu melihat orang lain beda ?, suka bergotong-royong, berketuhanan dsb ?. Kemana pelajaran yang saya peroleh sejak kecil itu ?.

Bukankah berbeda itu indah, oh iya, betul , misal ( pelangi, bayangin kalo pelangi satu warna, emang kalo satu warna masih disebut pelangi kah ? ). Justru karena perbedaan itu kita ada, ada laki ada perempuan, akhirnya ada kita, hasil reproduksi ( hasil perbedaan, bukan ? ). Menurut saya , perbedaan adalah awal dari segalanya, kalau tidak berarti semuanya hanya satu, satu titik, gitu aja. Setelah ada titik-titik lain yang berbeda tempatnya, jadilah garis, terus akhirnya jadilah bentuk, dst dst. Jadi sebenarnya perbedaan itu adalah produk Tuhan yang membentuk segala sesuatu didunia ini, ketika perbedaan semakin kompleks, kenapa kita justru memperdebatknnya, bahkan saling bunuh demi perbedaan itu ?. Sejarah dunia mencatat, pengingkaran terhadap “perbedaan” hanya membuahkan kesengsaraan, hanya berupa sebuah hegemoni komunal sesaat.

Bukankah perbedaan menimbulkan friksi, ya iyalahhh, kembali lagi, coba saja berpikir ” senang lihat orang lain senang, susah lihat orang susah ” , pasti friksi bisa di kurangi, atau mungkin bahkan bisa dihilangkan. Friksi justru mengasyikan loh , lha iya friksi yang itu ( halahh , saruuu )*, friksi yang itu juga timbul karena perbedaan khan ?. Warna juga sering friksi, namun justru gradasi warna ( friksi antar warna yang tertata ) menjadi trend web 2.0, perbedaan yang indah khan ?.

Blog ini pun disusun oleh perbedaan, 0 dan 1.
Bukankah perbedaan itu adalah warna kehidupan, kenapa musti dihapuskan ?.

Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” ?, kalau di analisa, apa sama artinya dengan “Menjadi Satu Kita Teguh ….” ?

Indonesia …. a Colourful Asia …. ( ngikutin slogannya Malaysia Truly Asia )

Gambar tanpa ijin diambil dari Ubuntu Linux