You are currently browsing the monthly archive for January 2007.

Flu burung menjadi momok yang menakutkan sejak tahun 2003 lalu. WHO pun masih menempatkan Flu Burung atau Avian Flu sebagai penyakit paling mematikan sejak tahun 2003. Sejak ditemukan pertama kali  sampai sekarang, sekarang Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus dengan tingkat kematian terbanyak didunia. Tanya kenapa ?.

Masyarakat Indonesia masih punya kebiasaan menormalkan atau mengabaikan sesuatu yang di anggap ancaman atau bahaya. Memandang segala sesuatunya ada di tangan Tuhan. Hidup mati ada ditangan Tuhan. Tidak ada salahnya memang, kita khan bangsa yang katanya berkeTuhanan , cuma apakah Tuhan menciptakan manusia hanya untuk berpasrah diri ?. Ketika wabah Flu Burung menyerang, kebanyakan masyarakat tenang tenang saja bahkan protes terhadap usaha pemerintah untuk menekan penyebaran wabah flu burung tersebut, entah itu adalah karena alasan ekonomis ( terbiasa memlihara unggas di pekarangan sebagai tradisi yang menjadi sumber penghasilan ), entah itu menganggap ayam mati pada musim musim hujan adalah hal biasa yang terjadi sejak masa lampau, dan sebagainya. Entahlah, itulah masyarakat kita. Sifat menormalkan atau mungkin lebih tepatnya mengabaikan ancaman atau bahaya , hal ini disebut Normalcy Bias.

Catatan di Wikipedia tentang normalcy bias belum begitu lengkap, namun sekitar awal 2005 lalu saya menonton sebuah tayangan di TVRI yang merupakan produksi TBS ( Tokyo Broadcasting System) tentang Tsunami yang memaparkan tentang akibat Normalcy Bias. Tayangan tersebut terkait bencana Tsunami di Tanah Rencong, Aceh. Disitu di beberkan, bahwa hal utama penyebab banyaknya korban adalah Norlmalcy Bias, dimana terabaikannya system early warning system yang sudah dimiliki Jepang oleh beberapa warganya. Misal, ada yang percaya bahwa rumahnya cukup kuat menahan gempa jadi tidak perlu menyelamatkan diri, atau karena percaya tsunami tidak akan terjadi karena belum pernah terjadi hal seperti itu sebelumnya sehingga tidak mengungsi, dan lain sebagainya.

Contoh yang lain tentang normalcy bias adalah, enggannya penduduk di desa desa dekat Gunung Merapi untuk mengungsi ketika Merapi batuk batuk kronis beberapa waktu lalu. Penduduk sudah tahu, bahwa luncuran Wedhus Gembel bisa saja mengancam pemukiman mereka, namun tetap saja mereka tidak beranjak dari desa mereka. Terlepas itu, apakah  karena faktor kepercayaan ( yang memang kita tidak bisa lepas dari ranah Nusantara ini ), namun itu lah normalcy bias. Normalcy Bias cenderung menjadi factor banyaknya korban yang berjatuhan, yang mestinya tidak terjadi.

Kini, ditengah wabah Flu Burung, masyarakat seolah tidak begitu terancam. Satu yang pasti permasalahan ekonomi yang mempengaruhi, mereka tak ambil pusing, kebutuhan lebih mendesak daripada persoalan wabah. Butuh makan mengalahkan segala kekhawatiran lainnya. Kemiskinan ; kebodohan ; kapan Indonesia terbebas ?.

Perbedaan kadang membuat kita melupakan arti manusia sebagai mahluk sosial, bahkan sering mengenyampingkan hati-nurani. Kadang saya berpikir, seandainya Tuhan tidak memberi manusia akal-budi. Akal-budi dan kemampuan manusia untuk berpikir telah membuat manusia menjadi penghancur, penghancur dirinya sendiri. Ditengah kehidupan yang heterogen seperti sekarang ini, perbedaan semakin di perdebatkan, saya putih, kamu hitam, saya benar kamu salah.

Keyakinan adalah hal yang paling sering menjadi gejolak, Indonesia yang heterogen sangat rentan dengan gejolak, hal kecil di perdebatkan, hal besar di bakar bakar. Saya pernah di ajak berdebat masalah keyakinan oleh tuan pemilik bangunan tempat saya bekerja 10 tahun lalu.
Jawab saya waktu , “Pak, sampai sekarang saja saya belum tuntas untuk mengerti dan menjalankan amanat agama saya, saya tidak bisa berdebat masalah keyakinan, dengan bapak”. Saya pikir waktu itu, betapa bodohnya saya berdebat tentang hal yang saya sendiri belum mengerti betul , dan saya yakin Bapak itu juga belum tentu mengerti dan menjalankan dengan betul keyakinannya sendiri. Kita sering belum paham dan mengerti akan sesuatu, namun sudah mendebatkannya, bahkan cendrung mengkultuskannya secara buta.

Dengan alasan menjunjung moral namun justru mengabaikan hak asasi, cenderung berpikir ala susah lihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah, penyebabnya cuma satu yaitu perbedaan. Bukankah bangsa ini katanya bangsa toleran, kenapa risih dan terganggu melihat orang lain beda ?, suka bergotong-royong, berketuhanan dsb ?. Kemana pelajaran yang saya peroleh sejak kecil itu ?.

Bukankah berbeda itu indah, oh iya, betul , misal ( pelangi, bayangin kalo pelangi satu warna, emang kalo satu warna masih disebut pelangi kah ? ). Justru karena perbedaan itu kita ada, ada laki ada perempuan, akhirnya ada kita, hasil reproduksi ( hasil perbedaan, bukan ? ). Menurut saya , perbedaan adalah awal dari segalanya, kalau tidak berarti semuanya hanya satu, satu titik, gitu aja. Setelah ada titik-titik lain yang berbeda tempatnya, jadilah garis, terus akhirnya jadilah bentuk, dst dst. Jadi sebenarnya perbedaan itu adalah produk Tuhan yang membentuk segala sesuatu didunia ini, ketika perbedaan semakin kompleks, kenapa kita justru memperdebatknnya, bahkan saling bunuh demi perbedaan itu ?. Sejarah dunia mencatat, pengingkaran terhadap “perbedaan” hanya membuahkan kesengsaraan, hanya berupa sebuah hegemoni komunal sesaat.

Bukankah perbedaan menimbulkan friksi, ya iyalahhh, kembali lagi, coba saja berpikir ” senang lihat orang lain senang, susah lihat orang susah ” , pasti friksi bisa di kurangi, atau mungkin bahkan bisa dihilangkan. Friksi justru mengasyikan loh , lha iya friksi yang itu ( halahh , saruuu )*, friksi yang itu juga timbul karena perbedaan khan ?. Warna juga sering friksi, namun justru gradasi warna ( friksi antar warna yang tertata ) menjadi trend web 2.0, perbedaan yang indah khan ?.

Blog ini pun disusun oleh perbedaan, 0 dan 1.
Bukankah perbedaan itu adalah warna kehidupan, kenapa musti dihapuskan ?.

Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” ?, kalau di analisa, apa sama artinya dengan “Menjadi Satu Kita Teguh ….” ?

Indonesia …. a Colourful Asia …. ( ngikutin slogannya Malaysia Truly Asia )

Gambar tanpa ijin diambil dari Ubuntu Linux

Sekaratnya Internet baru baru ini akibat Gempa Taiwan membuat berkah sementara buat saya. Kenapa berkah sementara ?, ya karena tidak selamanya, eh memangnya ada yang selamanya a.k.a kekal didunia ini ?. Berkah sementara yang saya maksud itu adalah, koneksi internet kami yang lebar pitanya menjadi berlipat-lipat. Entah disengaja atau tidak, semenjak internet se-Indonesia di terjang masalah kabel bawah laut yang di timpa gempa, lebar pita koneksi kami menjadi besar, tertinggi yang saya cek sempat mencapai 400-an kbps. Untuk ukuran saya yang sehari hari bejuang dengan angka 64 , kecepatan sekian itu sangat cepat menurut saya.

Namun, sayang berhubung Internet lagi sekarat, lebar-pita yang sekian kali lipat tersebut menjadi tidak berarti karena untuk mengakses situs situs luar Indonesia, tetap saja super lambat. Untuk situs situs Indonesia pastinya aksesnya cepat. Saat itu saya tidak mempertanyakan kenapa kenaikan yang tiba tiba itu ke ISP kami, pihak ISP pun tidak ada konfirmasi resmi kenapa mereka menaikkan lebar-pita kami.Waktu itu pikir saya, mungkin ini bentuk kepedulian ISP ketika koneksi ke situs situs luar empot-empotan, lebar pita diperlebar untuk memuaskan pelanggan , he he, cuman pikiran saya saja.

Entahlah, apakah hal ini disengaja atau tidak oleh ISP kami, saya kurang tahu. Berkahnya, paling tidak saya sempat merasakan kecepatan lumayan tinggi. Ya semoga dihari mendatang lebar pita koneksi kami bisa ditingkatkan minimal 2 kali lipat kecepatan sekarang. Saya malah sempat diledek teman sejawat sebelah, “Hare gene masih 64 ?”, katanya.

Ya, tak apa lah, “alon alon asal kelakon”. Hari ini saya cek lebar-pita kami sudah kembali normal seperti sediakala, ke angka keramat 64.

Sebentar lagi tahun 2006 lewat, sekedar mengingat kembali beberapa hal yang terjadi di tahun 2006. Sudah banyak kalaedoskop seputar dunia, indonesia dan lain sebagainya, jadi inilah kaliedoskop saya.

  1. Januari 2006, dengan semangat ingin mencoba wordpress saya akhirnya membuka sebuah akun di wordpress.com dan mulai lagi ngeblog
  2. Mei 2006, anak ke-dua saya berusia 1 tahun
  3. Agustus 2006, anak sulung saya masuk SD
  4. September 2006, penggantian 80% hardware di kantor
  5. Oktober 2006, proses migrasi system di mulai
  6. Desember 2006, Internet Indonesia ( bahkan Asia) sekarat, tidak bisa internet-an

Selamat tahun baru 2007 ….. !!!