Musim hujan telah tiba, sejak Hari Raya Kuningan, tanggal 9 Desember lalu, hujan sudah mulai mengguyur bumi Bali. Sejak akhir Nopember lalu, sudah banyak terlihat mendung yang malu malu untuk jatuh. Sejak Nopember pula terlihat sabetan lampu lampu laser pengusir hujan di beberapa hotel maupun venue venue event besar. Teknologi dan supranatural terlibat, demi mensukseskan sebuah acara besar, pawang hujan dan laser saling bahu membahu. Yang tersiksa adalah kami yang tinggal didekat daerah seperti GWK atau daerah yang biasa menjadi tempat berlangsungnya acara besar. Mengharapkan hujan dengan harapan gerah akibat hawa panas menjadi berkurang, apa daya, hujan keburu terusir oleh laser dan di tambah dentuman musik ditengah malam membuat sebagaian besar kualitas tidur berkurang.

Namun belakangan ini, hujan sudah mulai deras, rerumputan mulai terlihat menghijau disepanjang jalan Uluwatu, ranting pohon gamal, khas daerah Bukit Ungasan sudah mulia menampakkan pucuk -pucuk daun, sekarang sudah jarang tidur telanjang dada dan tidur dilantai untuk menyerap hawa dingin lantai, sudah berkurang teknik teknik pantul sana pantul sini arah kipas angin sewaktu tidur agar tidak masuk angin.

Masyarakat Jakarta khawatir dengan banjir tahunan, kaKekhawatiran saya justru terhadap kantor, ruang server saya sangat rentan terhadap bocor. Dua tahun lalu, hampir saja server utama kena air hujan, untungnya air jatuh cuma 5 centimeter dari sisi server dan kudos untuk kaki kaki tower si Proliant yang cukup tinggi yang meyelamatkan si server dari air. Rencana pindah ruangan masih menghadapi kendala. Setelah dicek ternyata ruang server saya diatasnya terdapat pertemuan dua atap berbeda yang dipasangi talang air, ketika talang atau saluran air ini tidak mampu menampung volume air yang besar akibat curah hujan yang terlalu besar maka terjadilah kebocoran akibat luapan air tersebut. Sementara ini beberapa pelindung diatas plafon sudah terpasang, namun tetap rasa was was menghantui.

Selamat datang hujan…