User pada ngedumel tentang sebuah software yang sedang di training-kan. Bukan saya yang memberi training sih, yang menjual software tersebut yang memberi training. Pada pikirin utama para user, software aka perangkat lunak, diimplementasikan untuk memudahkan pekerjaan. Bila pada kenyataannya justru akan menyulitkan, tak urung software tersebut di cap tidak bagus oleh user.

Yang bikin saya jengkel adalah user yang tidak nyambung dengan si pihak penjual software, dalam hal ini si trainer. Dimana si user memberi contoh kasus pada operational sehari hari, sedang si trainer, sok mengerti bagaimana itu operational sehari hari, dan parahnya, dia kurang menguasai produk yang di training-kan. Berat deh kasusnya. Dan lebih parah lagi, si trainer ini, untuk menutupi kekurangannya itu melakukan ‘gesture’ yang berlebihan yang berujung pada ‘over-acted’. Sebenarnya ada trainer lainnya yang lebih mengerti produk, namun tampaknya dia kalah senior dari si ‘over-acted’ ini.

Kesimpulan para user, software nya ‘susah’, trainernya ‘parah’. Passss …. benar benar pas…

Seharusnya si trainer bisa memberi solusi operational, untuk menutupi kekurangan software tersebut. Dalam hal ini biasanya berkaitan dengan kebiasaan operational yang memang tidak akan tercover oleh sebuah software. Software bertumpu pada logika dan kepastian, sedang operational sering bertumpu pada toleransi dan rationalisasi. Dalam hal ini, berhubung trainer tidak menguasai produk dan juga tidak menguasai bidang yang ditangani software ini, tentu saja dia tidak bisa memberikan solusi-solusi breaktrhough’ untuk memecah kebuntuan dua sisi yang berbeda ini.

‘Pak, bisa gak software ini di cancel saja pak ?’ , tanya satu user.