You are currently browsing the monthly archive for August 2006.

Ketika tahu Didats memulai untuk naik sepeda sebagai alat transportasi utama ke tempat kerja, saya jadi teringat pertama kali naik sepeda.

Pertama kali bisa naik sepeda, waktu kelas V SD, untuk beberapa orang mungkin seumuran segitu termasuk terlambat. Mau bilang apa lagi, dasar memang tidak punya duit buat beli sepeda. Ceritanya, waktu itu saya hijrah sekolah SD ke Denpasar sejak kelas IV karena ikut paman. Disampig rumah paman saya ini, tinggal kerabat dari satu kampung, dan anaknya yang lebih kecil sekitar 3 tahun dari saya, baru saja diberikan sepeda BMX (BMX lagi trend jaman itu ), akhirnya sepeda mini yang biasa dibawanya nganggur dan kerabat saya itu ( masih terhitung paman, tapi paman jauh ), mengijinkan saya menggunakan sepeda mini tersebut buat belajar naik sepeda setiap sore.

Biasa lah namanya juga baru bisa bersepeda, pasti waktu dihabiskan untuk naik sepeda sampai lupa waktu. Putar putar mengelilingi lapangan yang sebagian besarnya menjadi tempat pembuangan sampah.

Lulus SD saya dititipi uang ke paman oleh ibu saya untuk beli sepeda, hadiah karena berhasil juara umum satu dan berhasil masuk SMP Negeri 1 Denpasar. Senangnya bukan main. Impian saya waktu itu sih beli sepeda balap ( stangnya yang lengkung itu, waktu itu belum jaman sepeda federal, kira kira 3 tahun sebelum jaman sepeda federal ). Diajak paman ke toko sepeda dibilangan Kayumanis, begitu nunjuk sepeda balap ukuran sedang, paman saya mendelik. Katanya saya tidak usah beli sepeda mahal, duitnya disisihkan buat sekolah saja. Di SMP katanya saya perlu biaya yang lebih besar lagi. Benar juga sih. Saya nurut pilihan paman. Di belikannya saya sepeda cina ( sepeda jengki sebutannya dulu ), merk Phoenix warna biru. Hati saya tetap senang waktu itu, namanya juga sepeda baru. Sepeda Cina merk Phoenix warna Biru, tanpa gigi jadi milik saya.

Akhirnya sepeda itu jadi kendaraan utama saya pergi dan pulang ke sekolah. Sepeda itu bahkan saya gunakan sampai SMA. Maklum SMA juga saya di SMA 3 Denpasar, dimana memang sepeda motor dilarang. Jadi pake sepeda semua, sukurlah saya juga gak punya sepeda motor. Berhasil masuk sekolah negeri yang bagus saja saya sudah puas, sekaligus memuaskan orang tua dikampung yang sudah susah payah membiayai sekolah di kota.

Sepeda jengki biru tersebut baru saya pensiunkan pada akhir semester satu kelas tiga, karena tali rem keduanya putus dan sudah di pesan sama bibi untuk ponakannya. Nasib bagus juga saya di pinjamkan sepeda federal biru sama teman sekelas dari Legian, namanya Gung Surya Laksana. Orangnya pinter main gitar, saya juga diajari main gitar dengan meminjamkan gitarnya kesaya. Dasar saya kurang jiwa seni, disuruh kunci G jarinya belepotan. Akhirnya saya nyerah, gitar dibalikin hihi, sekarang baru nyesel. Terimakasih Gung. Beberapa bulan lamanya saya di kasih pinjam sepeda dimasa masa akhir kelas tiga SMA waktu itu. Pernah bersepeda dari Kesiman ke Waturenggong ketika les intensif di IPIEMS untuk pertama kali, saya malah ngantuk berat di sesi les.

Kalo dirunut dalam sejarah hidup saya sampai sekarang baru sekali saja saya pernah punya sepeda. Sebuah sepeda cina atau jengki warna biru. Lengkap dengan kampu dan dinamo. Sebuah hadiah dari ibu tercinta sebagai hasil perjuangan saya belajar. Terima kasih ibu.

Pengen ngikut b2w ?. Pengen sih, namun bukan sekarang. Nanti deh kalau sudah pindah ke daerah yang tidak berbukit seperti sekarang. Menyusuri tanjakan lebih dari 30 derajat dan panjang panjang takutnya bukannya bikin sehat.

Penasaran mau cari gambar sepeda jengki di google.

User pada ngedumel tentang sebuah software yang sedang di training-kan. Bukan saya yang memberi training sih, yang menjual software tersebut yang memberi training. Pada pikirin utama para user, software aka perangkat lunak, diimplementasikan untuk memudahkan pekerjaan. Bila pada kenyataannya justru akan menyulitkan, tak urung software tersebut di cap tidak bagus oleh user.

Yang bikin saya jengkel adalah user yang tidak nyambung dengan si pihak penjual software, dalam hal ini si trainer. Dimana si user memberi contoh kasus pada operational sehari hari, sedang si trainer, sok mengerti bagaimana itu operational sehari hari, dan parahnya, dia kurang menguasai produk yang di training-kan. Berat deh kasusnya. Dan lebih parah lagi, si trainer ini, untuk menutupi kekurangannya itu melakukan ‘gesture’ yang berlebihan yang berujung pada ‘over-acted’. Sebenarnya ada trainer lainnya yang lebih mengerti produk, namun tampaknya dia kalah senior dari si ‘over-acted’ ini.

Kesimpulan para user, software nya ‘susah’, trainernya ‘parah’. Passss …. benar benar pas…

Seharusnya si trainer bisa memberi solusi operational, untuk menutupi kekurangan software tersebut. Dalam hal ini biasanya berkaitan dengan kebiasaan operational yang memang tidak akan tercover oleh sebuah software. Software bertumpu pada logika dan kepastian, sedang operational sering bertumpu pada toleransi dan rationalisasi. Dalam hal ini, berhubung trainer tidak menguasai produk dan juga tidak menguasai bidang yang ditangani software ini, tentu saja dia tidak bisa memberikan solusi-solusi breaktrhough’ untuk memecah kebuntuan dua sisi yang berbeda ini.

‘Pak, bisa gak software ini di cancel saja pak ?’ , tanya satu user.