You are currently browsing the monthly archive for April 2006.

“Pak Wayan, tolong cepat datang ke kantor saya ya, komputer saya kow ngambek nih, saya tinggal morning briefing, balik balik layarnya sudah gelap gini dan ada pesan yang saya tidak mengerti nih “, begitu terdengar telepon dari atasan saya di lantai bawah.

Tanpa ba bi bu , saya langsung meluncur. “Kenapa sebenarnya Bu ?”, saya melihat di layar laptop berumur 1 tahun tersebut sebuah bar horisontal hitam putih khas MS Windows yang mandeg pada bar ke 3 dengan pesan yang menyatakan bahwa ada file system yang rusak dan perlu di jalankan “Repair Install” dari CD Install yang asli.

“Saya tidak tahu, tiba tiba saya lihat sudah saya begini, padahal tadi pagi sebelum berangkat briefing , saya sempat ngirim beberapa email”, jawab bos saya.

“Ibu masih menyimpan Recovery CD dan yang lainnya bu ?”, tanya saya.

“Wah CD yang itu yah ?, sudah hilang tuh Pak Wayan, yang ada cuma CD ini”, katanya sambil menyerahkan sebuah cd yang berjudul Acer Resource CD

“Yahh….”, saya pasrah.

Saya segera mengambil tool tool saya, pertama saya coba restart, namun kembali macet pada bar hitam putih ke tiga. Saya putuskan memakai System Recovery dari tool saya. Saya coba jalankan c:>bootcfg /scan, system memberi peringatan bahwa ada kerusakan pada harddisk yang harus diperbaiki sebelum menjalan proses command bootcfg.

Saya jalankan c:>chkdsk c: /R , setelah menunggu 30 menit, indikator menunjukkan proses mencapai 5 %, namun saya lihat indikator aktifitas harddisk tidak berkedip. Saya mencoba bersabar, saya tunggu 30 menit lagi. Indikator proses chkdsk masih di 5 % dan lampu indikator harddisk tetap tidak menyala. Walah ….

Saya putuskan coba boot memakai LiveCD Ubuntu, paling tidak saya perlu menyelamatkan data data boss dulu. Ubuntu boot dengan cepat dengan tampilan yang elegan di laptop tersebut. Saya coba mount hda1, bisa, syukur. Saya pilih browse folder, loh koq gak muncul muncul yah ? . Saya coba umount juga tidak bisa.

Saya coba ulangi lagi boot dari LiveCD Ubuntu, saya coba lagi, tidak bisa juga.

Kemudian saya pakai lagi System Recovery untuk mencoba chkdsk sekali lagi. Kali ini saya tinggal makan siang dan mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Dua jam kemudian saya periksa , chkdsk masih tetap macet di 5 % dan lampu indikator harddisk tidak menyala.

Note:
Setelah di cek, partisi tersebut ternyata rusak namun berhubung data data diperlukan, terpaksa dikirim ke pihak yang mempunyai tool lebih lengkap.

UPDATE ( 1/05/2006 )
Pihak yang lebih berkompeten dalam bidang hardisk rusak menyatakan bahwa head harddisknya tidak mau membaca dengan baik alias rusak hihihi. Kesimpulan harddisknya di ganti.

Advertisements

Kemarin saya seperti biasa berangkat ke kantor jam 8:15 , kali ini saya bawa bekas motor nya adik ipar saya, berhubung motor saya dibawa istri untuk mengantar anak ke acara sekolah. Tanpa ada firasat apapun, saya meluncur dengan motor itu dengan penuh percaya diri. Sebelumnya motor itu diperbaiki karena ada masalah pengapian, alhasil CDI diganti. Seperti biasa ada saja rentetan masalah yang katanya kena, kali ini katanya spul-nya , trus motornya mesti ditinggal berhubung orderan banyak, akhirnya waktu itu motor itu di servis, ganti oli, ganti cdi, busi. Buset dah …

Belum genap dua kilo motor itu jalan, rasanya mulai aneh, di mesinnya seperti mesin panas trus akhirnya mati. Saya coba hidupkan, bisa, namun setelah beberapa saat mati lagi. Coba didiamkan beberapa saat, dihidupkan bisa, bisa jalan 10 meter trus mati lagi. Walah . Akhirnya saya putuskan dorong ke bengkel terdekat. Setelah mendorong sekitar 1 kilometer dengan berpeluh karena memakai helm,jaket dan beban sebuah tas gendong akhirnya saya sampai di bengkel terdekat. Saya sampaikan riwayat motor dan kerusakan yang saya alami. Dia test pengapian, ok tidak ada masalah. Trus saya suruh dia cek oli, karena tadi suara mesinnya seperti mesin kepanasan. Ternyata benar .. tidak ada oli nya .. tepatnya tinggal kurang lebih 50 mili yang tersisa. Wah saya sudah mulai punya perasaan gak enak nih. Saya pasti di bohongin sama bengkel yang mengganti CDI itu…. pikir saya. Si montir bilang mungkin olinya habis karena pembakaran yang gak bagus sehingga oli banyak terbuang sebagai asap knalpot, atau bisa juga bocor. Saya ingat ingat motor ini tidak pernah dibawa kemana mana sejak di servis, terus tidak ada bekas ceceran oli di garasi dan juga asap knalpot biasa biasa saja, tidak berbau aneh dan tidak kelihatan seperti halnya pembakaran karena oli. Akhirnya setelah ganti oli, si montir mencoba menghidupkan motor saya dan dia memastikan memang masalahnya karena oli habis saja, dan pembakarannya memang tidak masalah, dia nyaranin kalau dalam seminggu ada masalah disuruh bawa ke bengkel itu untuk di cek lagi. Dia mencoba membesarkan hati saya dengan mengatakan mungkin saja bengkel tempat saya ganti CDI itu lupa ngisi olinya. Mungkin bodohnya saya juga terlalu percaya buat ninggalin motor buat di servis dan ganti oli. Dan memang saya tidak pernah servis di bengkel pinggir jalan kaya gitu sebelumnya, tetapi karena waktu itu perlu penting dan motornya sudah mogok jalan ya akhirnya mau tidak mau servis di pinngir jalan kaya gitu.

Saya beranikan terus jalan dengan motor itu kekantor, meskipun dengan perasaan was was takut mati lagi. Akibat masalah oli, saya jadi telat ngator sekitar 30 menit. Sesampai dikantor saya telepon istri saya untuk cek ulang dirumah apakah ada tetesan oli di garasi untuk memastikan bahwa permasalahanya adalah si bengkel sialan yang lupa ngisi oli , atau mungkin disengaja.. ah tidak taulah. Belakangan saya tahu kalau istri saya akhirnya komplen berat ke bengkel itu dan dapat ganti rugi 25 rebu perak.

Ketika pulang kantor saya periksa lagi jika ada ceceran oli dari motor saya di lantai parkir, tidak ada, Ini menambah keyakinan saya kalo tidak ada kebocoran oli. Saya akhirnya selamat tiba dirumah kembali.

Perlu di cermati, bahwa kedepan motor ini mesti di cek ulang lagi, saya tidak percaya dengan hasil oprekan bengkel sialan itu.

Sebuah pengalaman terburuk saya berurusan dengan bengkel pinggir jalan.

Bukan, saya bukan alih profesi menjadi seorang guru, masih banyak guru honorer yang berjuang agar menjadi PNS, jadi saya belum ingin menjadi guru. Ini tentang gimana susahnya mendidik anak anak.

Putra pertama saya sekarang di TK Nol Besar, namun jeleknya, ini anak paling susah disuruh belajar. Kecuali dia memang mood nya lagi mau belajar. Kalau sudah mood belajar, semua harta benda alat alat belajarnya bisa bertebaran di lantai, dari buku mewarnai sampai majalah anak anak, dari kerotan pensil sampai crayon yang sudah tidak berbentuk juga di tebar.

Terus terang saya ( ayahnya), bukan tipe pendidik yang baik ( cepet kesel ), makanya saya serahnya ke bunda-nya kalau urusan belajar mengajar. Kalau saya, kalau mata sudah mendelik karena anak saya salah berulang ulang, malah dia semakin buyar konsentrasinya, makanya untuk urusan belajar serius, lebih baik bunda-nya yang tangani. Ah susahnya memang menjadi pendidik.

Susah bikin anak pinter ?, heh. siapa sih orang tua yang tidak ingin anak pinter, cerdas, baik, soleh, pokoknya yang baik baik deh. Usaha mendidik itu yang sulit. Saya baru menyadari, ternyata jadi orang tua itu sulit . heh .. menyesal ? tidak lah. Saya mesti belajar menjadi pendidik anak yang lebih baik. Jadi tidak hanya anak yang perlu belajar, saya juga perlu belajar.

Membantu belajar anak sepulang kerja itu, tidak baik ..
Membantu belajar anak di kala perut lapar itu, tidak baik ..
Terlalu memaksa anak untuk belajar itu, tidak baik ..
Membiarkan anak untuk tidak belajar, tidak baik ..

Ah susahnya … lagi pusing mendidik anak.