Menjadi bapak dari dua orang anak dalam sebuah keluarga kecil membuat saya menikmati kehidupan ini. Meski menikmati dalam hal ini termasuk segala kepahitannya. Saya menyadari belakangan ini bahwa saya dan istri belakangan super sibuk untuk mengurus anak anak kami. Pagi sebelum berangkat kerja dan malam sepulang kerja.

Kami berdua sama sama bekerja, dan waktu kami dengan anak anak hanyalah pada hari minggu dan hari hari libur. Keseharian kami diawali dengan urusan anak anak dan urusan rumah tangga. Istri saya memasak atau mencuci dan saya memandikan si sulung dan si bungsu. Kemudian istri mesti memberi makan si bungsu dan saya mengawasi sarapan si sulung, biasa anak kecil, kalau soal makan mesti di awasi agar mau makan. Setelah itu saya mesti mengantar si sulung ke sekolah, Setelah semua pekerjaan itu selesai barulah kami mempersiapkan diri kami untuk mandi, sembhayang dan berangkat bekerja. Kami memang tidak punya pembantu, dan urusan menjaga anak anak dirumah kami percayakan ke neneknya. Sorenya sepulan kerja, kami mesti memastikan bahwa keduanya sudah rapi dan memberi mereka makan. membantu belajar si sulung dan menidurkan mereka.

Pekerjaan diatas biasa kami rolling dalam pelaksanaannya, atau kami tukar tukaran tugas, kalau saya mencuci, istri yang mandiin anak anak dst. Belakangan ini kami berpikir bahwa semakin besar si bungsu, kami akan semakin sibuk, dan tidak mungkin si nenek akan bisa mengawasi kedua anak anak kami dengan cekatan. Kami berpikir, kemungkinan besar kami akan mencari pembantu untuk sedikit mengurangi kesibukan kami. Paling tidak, pagi pagi kami tidak super sibuk. Karena seberapun siapnya kami, pada paginya kami akan sangat sibuk sekali. Sebenarnya ada dua pilihan yang kami tentukan yaitu :

  • Mencari pembantu
  • Mengatur jadwal dengan lebih ketat

Mencari pembantu, akan membuat kami akan lebih menambah budget bulanan, namun mempermudah kami dalam kesibukan sehari hari, walau dengan beberapa resiko yang mungkin kami hadapi, seperti ketidak sigapan si pembantu karena kurang terampil dan tingkat kepusan pelayanan yang mungkin dia bisa.

Mengatur jadwal dengan lebih ketat, maksudnya adalah semakin membuat jadwal jadwal harian kami dengan lebih tegas dalam pelaksanaannya, tidak boleh ada penundaan, setidaknya diminimalisir penundaan yang terjadi ( alahh .. Indonesia style sekali yah ) , harus diatur skala prioritas yang tepat untuk menghindari penundaan.Dimana semua ini butuh kedisiplinan kami. Perpaduan antara Getting Things Done nya David Allen dan Seven Habits nya Stephen R Covey, perlu kami terapkan. Ada yang punya bukunya spin-off nya 7 Habits yang berjudul Seven Habits of Highly Effective Families ??

Putu belajar komputer

Kami menyadari bahwa waktu kami dengan anak anak semakin berkurang sekarang ini, dan efektifitas interaksi kami dengan anak anak perlu kami tinjau ulang kembali. Seperti misalnya, mengajar anak sepulang bekerja, benar benar tidak bagus ( demikian juga saya baca di salah satu artikel ), stress kerja membuat kami tidak efektif dalam mengajar anak. Dan banyak lagi hal hal lainnya yang perlu kami perbaiki di tahun 2006 ini. Sebentar lagi si sulung akan menginjak SD, dan disadari atau tidak, sebuah rencana matang perlu kami persiapkan.

Hm ini seharusnya masuk dalam resolusi saya di tahun 2006 ini. Resolusi tahun 2006, mungkin akan saya post selanjutnya.